Pandai-Pandailah Memilih Alat Kontrasepsi
2004-03-08 14:27:35 (Lis Sinsin)
Tugas perempuan tidak hanya hamil! Begitu pendapat perempuan pada zaman sekarang. Bahkan kalau perlu, perempuan bisa menentukan kapan ia hamil dan berapa jumlah anak yang diinginkan. Sekarang tersedia banyak alat kontrasepsi, termasuk kondom rasa strawberry.
Pada zaman dulu, perempuan umumnya melahirkan anak yang banyak dan jaraknya sangat berdekatan. Bahkan di daerah Jawa Barat dikenal istilah “tunji (sataun hiji)” yang artinya tiap tahun perempuan dapat melahirkan satu anak. Lihat saja nenek dan buyut kita. Mereka mempunyai anak 9-11 orang. Jika kondisi ini dibiarkan, berapa jumlah penduduk Indonesia nantinya?
KUALITAS HIDUP PEREMPUAN
Alasan itu yang menyebabkan munculnya program keluarga berencana (program KB). Pada awalnya, tujuan utamanya adalah membatasi jumlah kelahiran dan menjarangkan kelahiran. Di tengah perjalanan, ternyata banyak manfaat yang dapat dipetik dari program KB. Dengan ber-KB ternyata lebih mensejahterakan ibu hamil. Sang ibu dapat memberi perhatian lebih baik kepada kehamilannya dan mencurahkan perhatian kepada anak-anaknya. Selain itu, ibu terhindar dari risiko perdarahan karena sering melahirkan dan risiko kematian akibat persalinan.
Perempuan sekarang menuntut peran yang lebih dari sekadar hamil, melahirkan, menyusui, dan membesarkan anak. Perempuan zaman sekarang ingin bersekolah lebih tinggi, ingin bekerja, ingin aktif di dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, ingin keharmonisan keluarga, ingin lebih percaya diri, dan ingin menikmati hubungan seks. Jadi, urusan mengatur kehamilan dan jumlah anak sebetulnya bukan sekadar urusan kuantitas (anak), juga soal kualitas kehidupan kaum perempuan.
Banyak anak dan sering hamil bisa dibilang akan menghambat tercapainya keinginan tersebut. Tak heran, Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 1997 (SDKI 1997) menunjukkan 72 persen perempuan zaman ini hanya menginginkan anak 2-4 saja.
Di sisi lain, pada zaman dulu yang menjadi target program KB adalah kaum perempuan. Sekarang, kaum laki-laki pun dituntut untuk aktif mengendalikan kehamilan istrinya. (Baca: Agar Sperma tak Jadi Perkara).
MEMILIH ALAT KONTRASEPSI
Senada dengan tuntutan di atas, kini produsen alat-alat kontrasepsi mulai melakukan consumer oriented dengan cara menyediakan alat-alat yang sesuai dengan keinginan konsumen. Jangan kaget bila dipasaran kini tersedia kondom rasa coklat atau kondom rasa strawbery, kondom perempuan, jelly, tisu KB, dan jenis-jenis alat kontrasepsi lainnya yang mungkin asing di telinga ibu-ibu kita. Variasi jenis alat kontrasepsi ini menambah daftar jenis alat kontrasepsi “klasik” seperti IUD, suntik, dan pil.
Telitilah sebelum membeli. Slogan itu juga berlaku dalam memilih alat kontrasepsi. Efektivitas dan efek sampingsejumlah alat kontrasepsi yang beredar di pasaran berbeda-beda. Pasangan usia subur (PUS) perlu mendapatkan pengarahan dari tenaga medis, baik bidan maupun dokter tentang hal ini. Bagi mereka yang mempunyai riwayat penyakit tertentu yang bisa menimbulkan kontraindikasi, tidak boleh sembarangan memilih alat kontrasepsi hormonal.
Jadi, sebaiknya penggunaan dan pemilihan alat kontrasepsi harus berkonsultasi dengan dokter. “Pemakaian alat kontrasepsi harus dievaluasi setiap bulan, paling tidak sekali dalam tiga bulan. Ini penting untuk mengetahui cocok atau tidaknya obat atau alat tersebut bagi peserta KB,”ujar Dr. Okky Sofyan, Sp.OG dari Rumah Sakit Bunda Jakarta. (lihat tulisan Pilih yang Mana?)
Kenyataan menunjukkan efektivitas alat kontrasepsi sering tidak didapatkan secara optimal. Banyak dijumpai, perempuan yang telah menggunakan alat kontrasepsi tetap hamil. Karena itulah para ahli kandungan menempatkan efektivitas atau daya guna alat kontrasepsi menjadi dua tingkatan sesuai dengan cara penggunaannya, yaitu efektivitas teori dan efektivitas praktek. Jika efektivitas praktek lebih rendah dibandingkan teori, hal itu disebabkan oleh faktor kelalaian dan ketidakhati-hatian si pemakai semata.
Saat ini jenis alat kontrasepsi dapat digolongkan menjadi 6 kelompok.
- Kontrasepsi tanpa menggunakan alat-alat/obat-obatan; termasuk di dalamnya senggama terputus, pembilasan pascasenggama, perpanjangan masa penyusui, dan pantang berkala.
- Kontrasepsi secara mekanis; meliputi kondom dan pessarium (diafragma vaginal dan carnival cap)
- Kontrasepsi dengan obat-obatan spermatisida; seperti suppositorium, jelly atau krim, tablet busa dan intravag (tissu KB)
- Kontrasepsi hormonal (pil dan implan)
- Kontrasepsi dengan Intra Uterine Device (IUD)
- Kontrasepsi mantap (sterilisasi); termasuk di dalamnya vasektomi dan tubektomi
Di antara berbagai jenis alat kontrasepsi tersebut, yang mudah di jumpai di apotik atau paling banyak dipilih pasangan muda adalah kondom, pil, suntik, susuk, IUD dan sterilisasi. Harganya bermacam-macam dan ditentukan oleh siapa yang memasangkan alat kontrasepsi tersebut.
Berdasarkan data SDKI 1997, jumlah perempuan menikah yang menggunakan alat kontrasepsi sebesar 57,4 persen dan yang tidak menggunakan sebesar 42,6 persen. Alat kontrasepsi yang populer adalah alat kontrasepsi modern (pil, IUD, suntik, kondom, implan dan sterilisasi) dibandingkan metode tradisional (seperti pantang berkala). Suntik dan pil merupakan alat kontrasepsi yang paling banyak dipakai. Diafragma dan tisu KB hanya digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.
Yang menarik, sekitar 85 persen akseptor KB lebih memilih pelayanan bidan ketimbang tenaga medis lainnya. Mungkin ini disebabkan kultur perempuan Indonesia yang merasa lebih nyaman berkonsultasi dengan kaumnya sendiri. Boleh dikatakan penyebaran bidan yang sampai 73.526 orang di seluruh Indonesia turut mempermudah gerakan KB nasional.
Namun, bidan tetap saja mempunyai keterbatasan wewenang dalam memberikan pelayanan yang berkaitan dengan urusan kontrasepsi. Menurut Dr. Okky, dokter ahli kebidanan dan kandungan jelas mempunyai kewenangan terbesar untuk memberikan konsultasi dan pemasangan semua jenis kontrasepsi. Dokter umum hanya boleh memberikan konsultasi dan pemasangan alat kontrasepsi sampai tahap vasektomi saja dan tidak boleh melakukan tubektomi. Kewenangan bidan dibatasi pada lingkup pemberian pil KB, injeksi, kontrasepsi mekanik dan pemasangan IUD saja. “Seorang bidan tidak boleh melakukan tindakan yang bersifat operatif seperti yang dilakukan pada proses sterililisasi,” ujar Dr. Okky.
PIL JADI TREND
Meskipun data SDKI 1997 menyebutkan pil KB merupakan jenis kontrasepsi dengan ranking kedua digunakan oleh PUS, pengamatan di lapangan menunjukan pil KB lebih banyak dipakai dibandingkan jenis kontrasepsi lain. Salah satu penyebabnya adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembelian pil relatif lebih murah. “Penggunaan Pil KB merupakan yang paling ekonomis,” kata Dr. Okky.
Hal senada juga diungkapkan oleh Nurdaniah, bidan yang selain sehari-hari bertugas di Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring Jakarta Selatan dan juga membuka praktek pemeriksaaan kehamilan dan konsutasi dan pemasangan alat kontrasepsi di rumahnya. Menurut Nurdaniah, kebanyakan peserta KB yang ditanganinya cendrung memilih pil ketimbang injeksi apalagi IUD.
Tren penggunaan pil KB ini juga dibenarkan oleh Kiswanto, Institusional Manajer PT Organon Indonesia, salah satu supplier alat-alat KB. Ia mengakui setidaknya penjualan Pil KB Organon sepanjang tahun 2001 mengalami peningkatan sebesar 15 persen dan diperkirakan penjualan tahun 2002 ini akan melejit menjadi 20 persen.
Besarnya potensi pasar pil KB di Indonesia mengundang perusahaan farmasi saling berkompetisi memperebutkan pasar. Produk luar negeri pun berebut masuk ke pasaran Indonesia. Contohnya di tahun 2001 lalu, pil KB buatan Cina berhasil memenangkan tender dan turut bermain dengan harga yang sangat bersaing.
Kemasan pil KB juga semakin berkualitas dan semakin meminimalkan efek samping. Contohnya, PT Organon Indonesia belakangan ini mengeluarkan pil KB baru seperti Marvlon 28, Mercilon 28 maupun Exluton dengan kualitas yang lebih unggul. Produk-produk ini dibuat dari generasi bahan baku pil KB generasi ketiga yang berasal dari akar tumbuh-tumbuhan.
JENIS-JENIS METODE KONTRASEPSI
Memilih alat kontrasepsi didasarkan pada beberapa pertimbangan berikut: efektivitasnya yang tinggi, tidak menimbulkan efek samping, daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan, tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan hubungan seks, dan mudah digunakan. Pertimbangkan juga soal harga dan yang paling penting dapat diterima oleh pasangan Anda. Berikut adalah jenis-jenis alat kontrasepsi yang tersedia saat ini.
Senggama Terputus
Senggama terputus adalah cara mencegah kehamilan dengan menarik penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi. Cara ini merupakan cara kontrasepsi yang tertua dikenal manusia, dan mungkin masih merupakan cara yang paling banyak dilakukan sampai sekarang. Keuntungannya adalah cara ini tidak membutuhkan biaya dan persiapan. Kekurangannya adalah memerlukan pengendalian diri yang besar dari laki-laki, dan banyak laki-laki yang tidak bisa mengontrol emosionalnya.
Pembilasan Pasca Senggama
Pembilasan pascasenggama dilakukan oleh perempuan dengan cara membilas vagina dengan air biasa dengan atau tanpa larutan obat (cuka atau obat lainnya) segera setelah berhubungan seks. Maksudnya untuk mengeluarkan sperma secara mekanik dari vagina. Secara alami perempuan juga bisa mencegah kehamilan dengan cara memperpanjang masa menyusui.
Pantang berkala/sistem kalender
Pantang berkala yang juga diistilahkan dengan sistem kalender mula-mula diperkenalkan oleh Kyusaku Ogino dari Jepang dan Hermann Knaus dari Jerman sekitar tahun 1931. Karena itu cara ini juga sering disebut dengan cara Ogino-Knaus. Dasar pemikirannya adalah perempuan hanya dapat hamil selama beberapa hari saja dalam tiap daur haidnya. Masa tersebut disebut masa subur atau fase ovulasi itu dan terjadi sekitar 14 hari (toleransinya sekitar 2 hari) sebelum hari pertama haid yang akan datang.
Kendalanya adalah sulit bagi perempuan untuk menentukan masa suburnya, terutama bagi mereka yang masa haidnya tidak teratur. Banyak yang mengatakan cara ini adalah yang paling aman dan tidak mempunyai efek samping.
Kondom
Penggunaan kondom sudah dimulai sejak zaman Mesir kuno. Pada 1553, Gabrielle Fallopi melukiskan tentang penggunaan kantong sutera diolesi dengan minyak yang dipasang menyelubungi penis sebelum berhubungan seks dengan tujuan mencegah laki-laki dari penyakit kelamin.
Penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi baru dimulai pada abad ke-18 di Inggris. Pada mulanya kondom ini dibuat dari usus biri-biri dan dalam perkembangannya pada 1844, Goodyear berhasil membuat kondom dari karet. Kondom yang umumnya dipakai sekarang ini terbuat dari karet dan tersedia dengan ukuran dan warna yang beragam. Efektivitas kondom ini bergantung pada mutu dan ketelitian dalam penggunaannya.
Pessarium (Diafragma Vaginal dan Carnival Cap)
Pessarium merupakan kondom pada perempuan. Secara umum pessarium ini terbagi dua golongan, yakni diafragma vaginal dan carnival cap. Diafragma vaginal ini merupakan alat kontrasepsi yang terdiri dari kantong karet yang berbentuk mangkuk dengan “per” elastis pada pinggirnya. Pinggir diafragma mudah dibengkokkan dan disisipkan di bagian atas vagina untuk mencegah sperma masuk ke saluran reproduksi bagian atas. Supaya efektif hendaknya dipakai jelly atau krim kontrasepsi untuk pembunuh sperma.
Diafragma ini harus tinggal dalam vagina selama 6 jam setelah melakukan hubungan seksual. Alat kontrasepsi yang satu ini paling cocok dipakai oleh perempuan dengan dasar panggul yang tidak longgar dan dengan tonus dinding vagina yang baik. Namun untuk penggunannya perlu diperiksa dahulu ukuran difragma yang sesuai.
Carnival cap terbuat dari karet atau plastik dan berbentuk mangkuk yang pinggirnya terbuat dari karet yang tebal. Ukurannya lebih kecil dari diafragma vaginal. Alat ini mulai jarang dipergunakan untuk kontrasepsi.
Spermatisida
Spermatisida yang dipakai untuk kontrasepsi terdiri atas dua komponen yaitu zat kimiawi yang mampu mematikan spermatozoa; dan vechikulum yang dipakai untuk membuat tablet, krim, atau jelly. Spermatisid berguna untuk mematikan sperma sebelum melewati serviks. Cara kerjanya dengan merusak membran sel sperma dan menurunkan mobilitas sperma serta kemampuan sperma di dalam membuahi ovum. Spermatisida terdiri dari bermacam bentuk seperti suppositorum, jelly atau krim, tablet busa dan tisu KB. Penggunanya masih sangat sedikit.
Pil
Ada tiga macam pil kontrasepsi yaitu: mini pil, pil kombinasi, dan pil pascasenggama. Selain mencegah terjadinya ovulasi, pil juga mempunyai efek lain terhadap traktus genitalis. Efeknya berupa perubahan-perubahan pada lendir serviks, sehingga menjadi kurang banyak dan kental. Dengan demikian sperma tidak bisa memasuki rongga rahim.Yang umum dipakai adalah pil kombinasi antara estrogen dan progesteron. Pil terbuat dari hormon sintetik.
Walau macamnya banyak tersedia dipasaran dan tingkat efektivitasnya sangat tinggi, tidak semua perempuan dapat menggunakan pil kombinasi untuk kontrasepsi. Keadaan yang tidak diperbolehkan menggunakan pil KB adalah:
- Perempuan yang mempunyai tumor yang dipengaruhi oleh estrogen
- Perempuan yang menderita penyakit hati yang aktif, baik akut maupun menahun
- Perempuan yang pernah menderita trombophlebitis, tromboemboli, dan kelainan cerebro-vaskuler
- Perempuan yang mempunyai penyakit diabetes melitus
- Perempuan yang mengalami depresi, migren, mioma uteri, hipertensi, oligomenorea. (Khusus untuk kondisi ini bersifat relatif dan pemberian pil kombinasi bagi perempuan yang mengalami kelainan-kelainan ini harus di diawasi secara teratur, sedikitnya sekali dalam tiga bulan).
Suntikan
Saat ini terdapat dua macam kontrasepsi suntikan. Pertama, golongan progestin seperti depoprovera, depogeston, depoprogestin, dan noristerat. Kedua, golongan progestin dengan campuran estrogen propionat, seperti cycloprovera. Obat ini bekerja dengan jalan menekan pembentukan hormon dari otak sehingga mencegah terjadinya ovulasi. Obat suntikan ini sangat cocok diberikan pada ibu-ibu yang sedang menyusui karena cara kerjanya tidak mengganggu laktasi.
Susuk/implan
Ada dua macam susuk yang biasa dipergunakan untuk kontrasepsi, yaitu norplan dan implanon. Norplan merupakan metoda kontrasepsi berjarak 5 tahun yang terdiri atas 6 kapsul silastik silikon berisi masing-masing 36 mg levonorgestrel dan disisipkan dibawah kulit. Implanon hanya berjarak 3 tahun dan berbentuk batang putih lentur dengan panjang 40 mm dan diameter 2mm dalam suatu jarum yang terpasang pada inserter khusus.
IUD (Intra Uterine Device) atau Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Sekarang ini di pasaran terdapat berpuluh-puluh jenis IUD. Dari bahan bakunya IUD yang beredar terdiri dari tiga tipe. Ada yang terbuat dari plastik, mengandung tembaga, dan ada yang mengandung hormon steroid. Dari segi bentuknya, IUD terbagi ke dalam bentuk yang terbuka dan tertutup seperti cincin. Yang banyak dipergunakan dalam program KB masional adalah IUD jenis Lippes loop.
Dibandingkan dengan alat dan obat kontrasepsi yang lain, IUD mempunyai keunggulan karena hanya memerlukan satu kali pemasangan, tidak menimbulkan efek sistemik, ekonomis dan cocok untuk penggunaan secara masal, efektivitasnya cukup tinggi, dan mudah dilepas jika menginginkan anak (reversibel). Namun demikian, IUD bisa menimbulkan efek samping seperti pendarahan, rasa nyeri, kejang perut, dan gangguan atau ketidaknyamanan pada suami. Bahkan bisa menimbulkan infeksi pelvik dan endometritis.
Sterilisasi (tubektomi dan vasektomi)
Dalam prakteknya, sterilisasi dibedakan menjadi dua, yakni vasektomi dan tubektomi. Tubektomi merupakan upaya sterilisasi yang dilakukan terhadap perempuan dengan jalan menutup atau memotong indung telur dengan cara tertentu sehingga yang bersangkutan tidak dapat hamil lagi. Vasektomi adalah tindakan pengikatan atau pemotongan pada saluran sperma (vas deferens) yang mengakibatkan seorang laki-laki tidak bisa menghamili lawan jenisnya. Keunggulan sterlisasi ini diantaranya adalah efektivitasnya hampir 100 persen, tidak mempengaruhi libido seks, dan kegagalan dari pihak pasien hampir tidak ada.
PILIH YANG MANA?
Alat Kontrasepsi Yang Paling Banyak Dipakai (per 100 Akseptor)
ALAT KONTRASEPSI
1. KONDOM
2. PIL
3. SUNTIK
4. SUSUK/IMPLAN
5. IUD
6. VASEKTOMI
7. TUBEKTOMI
KEUNGGULAN
1. Kondom
Memberikan perlindungan terhadap penyakit kelamin
2. Pil
Siklus Haid teratur
Frekuensi Koitus tidak perlu diatur
Harga relatif murah
3. Suntik
Tidak mempengaruhi laktasi
4. Susuk/Implan
Kontrasepsi jangka panjang
5. IUD
Hanya satu kali pasang
Tidak menimbulkan efek sistemik
Cocok untuk penggunaan secara masal
Efektivitas cukup tinggi
Reversibel
6. Vasektomi
Kontrasepsi yang paling efektif
Dilakukan hanya satu kali
Tidak mempengaruhi libido
7. Tubektomi
Kontrasepsi yang paling efektif
Dilakukan hanya satu kali
Tidak mempengaruhi libido
EFEK SAMPING
1. Kondom
Alergi terhadap bahan pembuat kondom
2. Pil
Efek karena kelebihan estrogen (mual, retensi cairan, sakit kepala, nyeri pada payudara, keputihan)
Efek karena kelebihan progesteron (pendarahan tidak teratur, nafsu makan dan berat badan bertambah, cepat lelah, depresi, alopesia, libido kurang, jerawat, darah haid sedikit, keputihan)
Efek sampingan berat (Trombo-emboli, termasuk trombophlebitis, emboli paru-paru dan trombosis otak)
3. Suntik
Mengganggu siklus haid, yaitu pendarahan tidak teratur
4. Susuk/Implan
Mengganggu siklus haid, yaitu pendarahan tidak teratur dan amenore
5. IUD
Pendarahan
Rasa nyeri dan kejang perut
Gangguan pada suami
Ekspulsi (pengeluaran sendiri)
6. Vasektomi
Hampir tidak ada
7. Tubektomi
Hampir tidak ada
EFEKTIVITAS (PRAKTIS)
1. Kondom: 80 % - 90 %
2. Pil: 90 % - 96 %
3. Suntik: 95 % - 97 %
4. Susuk/Immplan: 97 % - 99 %
5. IUD: 94 % - 95 %
6. Vasektomi: 99,4 % - 99,8 %
7. Tubektomi: 99,5 % - 99,9 %
Data diperoleh dari:
http://www.humanmedicine.net/?id=186&m=read&s=article

Tidak ada komentar:
Posting Komentar